Edukasi

Amankah Jamu Bersalin Untuk ASI?

Thursday, 9 April 2015

Mengkonsumsi jamu bersalin setelah melahirkan dipercaya dapat mengambalikan kondisi tubuh wanita seperti semula. Tapi disisi lain ada kekhawatiran akan imbasnya pada kualitas ASI. Benarkah ada hubungannya?

Pasca bersalin, bobot tubuh wanita biasanya belum kembali ke bentuk semula. Padahal agar bisa tampil lebih percaya diri, berat tubuh ideal ingin segera dicapai. Untuk menyiasatinya, berbagai cara pun ditempuh. Mulai dari olahraga hingga mengkonsumsi jamu-jamuan pelangsing atau jamu bersalin.
Kegiatan konsumsi jamu-jamuan itu sendiri bagi sebagian besar wanita Indonesia dikenal sebagai tradisi leluhur yang diperkenalkan secara turun-temurun. Jenis jamunya pun beragam. Khusus untuk jamu bersalin biasanya terdiri dari susut perut, piling, tapel, parem dan stagen bengkuang. Fungsi utama dari jejamuan tersebut tentu untuk mengembalikan kondisi psikis dan fisik sang ibu pasca melahirkan, menyembuhkan luka, membersihkan darah kotor, mengambalikan kondisi rahim dan sudah tentu menurunkan berat badan agar bisa kembali seperti saat gadis.
Namun, beberapa kekhawatiran kerap timbul sehubungan dengan kegiatan mengkonsumsi jamu. Pertanyaan yang paling sering timbul adalah : apakah jamu yang dikonsumsi tersebut akan mengubah kualitas ASI? Pasalnya, apa yang dikonsumsi sang ibu pasti berpengaruh pada bayinya. Faktanya, menurut dr. Nurdadi Saleh, SpOG, konsumsi jamu bersalin tidak membawa pengaruh buruk pada ASI, bahkan dapat memperlancar ASI.
“Secara medis jamu bersalin sebetulnya tidak dianjurkan tapi tidak juga dilarang. Kalaupun boleh hanya dikonsumsi untuk Ibu hamil yang melahirkan dengan normal, bukan caesar dan tidak boleh ada komplikasi saat melahirkan,” terang Nurdadi.
Hal ini disebabkan karena kondisi tubuh Ibu yang melahirkan secara normal dan caesar jelas berbeda. Perbedaan ini salah satunya adalah dalam merespon konsumsi dari jamu-jamuan. Sebagai contoh, bunda yang melahirkan dengan kontraksi berlebihan atau luka sayatan caesar jelas tidak perlu jamu untuk merekatkan rahim pasca melahirkan. Sebab bunda yang melahirkan dengan caesar umumnya masih mengkonsumsi obat dari dokter selama beberapa waktu. Penggunaan obat dokter dan jamu secara berbarengan biasanya tidak disarankan. Hal ini tentu berbeda dengan kondisi ibu yang melahirkan secara normal, dimana obat-obatan sangat minim diberikan.
Disisi lain Nurdadi melanjutkan, ibu yang menyusui justru bisa memperoleh banyak manfaat dari jamu pasca bersalin yang dikonsumsinya. Sebab, kandungan dari jamu-jamu tersebut alami dan herbal. Misalnya kunyit, pegagan, jungrahap dan temulawak yang sangat berguna untuk membantu penyembuhan luka dan pendarahan sehabis bersalin serta memperlancar metabolisme dan mengurangi bau badan. Jahe, kencur, klabet, dan sereh sebagai bahan dasar parem untuk meredakan pegal-pegal dan memperbaiki peredaran darah. Ganthi, kencur, kunyit, papermint dan kenanga di dalam pilis yang bermanfaat meredakan rasa pusing dan mencegah sel darah putih naik ke kepala.
Akan tetapi, sekali lagi semuanya kembali pada kondisi tubuh si ibu dan bayi. Bila sang ibu memiliki riwayat gangguan kesehatan saat hamil dan melahirkan, maka biasanya konsumsi jamu tidak akan dianjurkan. Misalnya saja si ibu memiliki riwayat penyakit hepatitis atau sakit kuning.
“Tidak hanya pada saat menyusui, semua orang dengan riwayat penyakit hati memang tidak dianjurkan mengkonsumsi jamu-jamuan karena akan menghambat metabolisme hati,” papar Nurdadi.
Bagi bayi, Nurdadi melanjutkan, sedikit banyak jamu-jamuan yang diminum si ibu secara langsung pasti akan tertelan oleh bayinya dalam bentuk ASI. Bila tidak menimbulkan efek apapun, maka tidak masalah untuk dilanjutkan sampai 40 hari. Tapi yang perlu diperhatikan apabila ada efek samping langsung kepada bayi, seperti muntah, diare atau demam, maka konsumsi jamu harus segera dihentikan.
“Ini berarti ada kontradiksi jamu-jamuan yang diminum dengan tubuh bayi. Ada baiknya dihentikan saja atau dikonsultasikan pada dokter,” tukasnya.

Sumber Gambar : Internet

LATEST TOP NEWS