Bermain

Yuk, Berpetualang Seru di Lawang Sewu

Friday, 7 October 2016

Jika ingin liburan ke Jawa Tengah, Semarang bisa dijadikan salah satu destinasi pilihan. Sebab selain menyediakan aneka makanan yang menggiurkan, disana juga banyak tempat wisata asyik yang bisa dikunjungi bersama keluarga, termasuk Lawang Sewu.

Mengajak sang buah hati untuk bermain tak harus melulu ke tampat yang memiliki banyak arena wahana permainan. Sesekali, perlu bagi orangtua untuk dapat memberikan pengalaman bermain yang berbeda dari biasanya. Misalnya, dengan mengajaknya berpetualang seru di museum.

Nah, salah satu museum yang patut diagendakan dalam rencana perjalanan rekreasi bersama keluarga ada di Semarang, Lawang Sewu namanya. Mengapa? Sebab, di Lawang Sewu terdapat  Museum Kereta Api yang penuh dengan obyek wisata arsitektur peninggalan jaman penjajahan Belanda. Sejatinya, Lawang Sewu bisa menjadi wisata edukatif  yang mampu memikat hati keluarga, termasuk si kecil.

lawang

Sejarah Lawang Sewu

Menurut catatan sejarah, nama Lawang Sewu diambil dari Bahasa Jawa yang artinya pintu seribu. Nama ini kemungkinan dipilih karena bangunan Lawang Sewu memiliki pintu dan jendela berukuran besar yang sangat banyak. Meski pada kenyatannya jumlah pintunya tidak mencapai seribu,  namun nama tersebut tampaknya sudah terlanjur identik.

Gedung Lawang Sewu memiliki 2 lantai dan mulai dibangun pada tahun 1904. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Lawang Sewu digunakan sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia yang kini lebih dikenal dengan nama PT Kereta Api Indonesia. Tak heran jika akhirnya gedung ini sekarang dijadikan Museum Kereta Api.

Museum Kereta Api

Hal pertama yang dapat dipelajari sang buah hati ketika berkunjung ke Lawang Sewu adalah Loko Uap Tua Berseri C 2301. Bersama tour guide yang siap memandu dan menceritakan detil sejarah, si kecil akan dibuat terpesona dan menyimak cerita mengenai lokomotif tua yang dibuat pada tahun 1908 itu. Setelahnya, kegiatan berfoto ria di atas lokomotif  pun dapat dilakukan.

Selain Loko Uap Tua yang pernah beroperasi melayani rute antara jalur Semarang –  Jatirogo  dan Semarang – Blora hingga tahun 1980, si kecil juga dapat menyaksikan peralatan unik  Tuas Wesel Alkmaar,  yang terlihat masih sangat terawat. Peralatan tersebut berfungsi untuk menggerakkan palang sinyal, yang merupakan sistem signaling untuk mengatur lalu-lintas kereta api tempo dulu. Di sana, tersaji juga koleksi Lampu Hansen, yang merupakan peralatan persinyalan kereta api, namun bersifat mobile karena dapat dibawa oleh petugas pemeriksa keamanan jalur rel.

Tidak hanya itu, Museum Kereta Api di Lawang Sewu juga menyajikan replika sistem perkeretaapian dan segala macam pernak-pernik miniatur yang berhubungan dengan sejarah kereta api. Belum lagi, berbagai lukisan bersejarah yang terpajang cantik di sudut dinding museum, yang tentu saja menyimpan sejarah tersendiri dan memberikan sensasi keindahan bagi pengunjungnya.

dokumen-wang

Jika sudah kelelahan mengelilingi area museum, ayah dan bunda dapat mengajak sang buah hati untuk duduk menonton film dokumenter seputar sejarah perkeretapian di Tanah Jawa. Atau, bisa juga membawanya duduk-duduk santai di bawah asrinya pohon-pohon besar yang ada di pelataran luas gedung tua Lawang Sewu.

Nantinya, tak hanya cerita sejarah yang bisa menjadi “oleh-oleh” selepas berkunjung ke Lawang Sewu. Namun, foto-foto dengan spot atau latar belakang yang menarik pun dapat menjadi kenangan dan kebanggaan tersendiri. Misalnya, berfoto di atas loko dan aneka replika atau miniatur kereta; mengambil foto artistik di sepanjang lorong pintu Lawang Sewu; atau mengoleksi foto dengan latar belakang dinding tua di dalam toilet antik Lawang Sewu.

Untuk dapat mengunjunginya, tarif masuk  yang diberlakukanpun tercatat sangat murah, yakni Rp 10 ribu untuk orang dewasa  dan Rp 5 ribu untuk anak-anak. Sementara jam berkunjungnya mulai pukul tujuh pagi hingga sembilan malam. Selamat menikmati petualangan seru di Lawang Sewu.

 

 

LATEST TOP NEWS