Bermain

Wisata Sejarah di Bukittinggi

Friday, 9 June 2017

Sumatera Barat ternyata tidak hanya mewariskan ragam makanan yang memanjakan lidah. Tapi juga kaya akan peninggalan sejarah dan keindahan alam.

Siapa tak kenal rendang atau sate padang? Kedua jenis makanan tradisional ini memang sudah sangat terkenal. Tak heran jika hampir di setiap sudut kota di Indonesia banyak restoran yang menyajikannya. Mulai dari yang kelas tenda sampai hotel bintang lima. Tapi tahukah Anda? Selain makanan, Sumatera Barat, daerah asal dari rendang dan sate padang tersebut juga memiliki banyak tempat wisata, khususnya di Bukittinggi. Apa saja?

Rumah Kelahiran Bung Hatta

Dr. H. Mohammad Hatta atau lebih dikenal dengan panggilan Bung Hatta yang merupakan Wakil Presiden Indonesia yang pertama lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902. Untuk menghormatinya, maka rumah kelahiran Bung Hatta di kota tersebut diresmikan menjadi tempat wisata sejarah.

Agar pengunjung bisa mendapatkan gambaran masa kecil Bung Hatta secara utuh, maka rumah itu sengaja dibangun kembali mengikuti bentuk aslinya. Didalamnya terdapat bangunan utama, pavilion, lumbung padi, dapur dan kandang kuda serta kolam ikan. Bahkan sebagian besar perabotan yang terdapat dalam rumah juga masih asli dari peninggalan masa kecil Bung Hatta. Selain itu terdapat juga foto atau dokumentasi  keluarga Bung Hatta. Terletak di jalan Sukarno Hatta no.37, Mandiangin Koto Selatan, Bukittinggi, rumah ini dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 8 pagi.

Benteng Fort de Kock

Benteng Fort de Kock merupakan benteng militer yang pada masanya digunakan sebagai tempat pertahanan. Benteng yang didirikan diatas Bukit Jirek pada tahun 1825 tersebut saat ini telah menjadi objek wisata yang selalu dikunjungi pendatang.

Kawasan sekitar benteng Fort de Kock telah dialih fungsikan menjadi taman kota Bukittinggi. Selain itu, pada tahun 2002 dibangun Taman Burung Tropis sebagai sarana rekreasi pengunjung.

Setelah berkunjung ke kawasan ini Anda dan keluarga bisa bertolak ke Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan melalui Jembatan Limpapeh yang memiliki panjang sekitar 90 meter dan lebar sekitar 3 meter, sambil menikmati pemandangan kota Bukittinggi.

Di Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan tidak hanya terdapat berbagai macam binatang, namun terdapat juga sebuah rumah adat yang menyimpan peninggalan sejarah. Juga terdapat taman Bundo Kanduang yang menunjukkan orang Minang yang menganut sistem matriakat.

Taman Panorama dan Lubang Jepang

Sesuai dengan namanya, Taman Panorma menjadi lokasi yang tepat untuk menikmati keindahan alam Ngarai Sianok yang dilatarbelakangi oleh Gunung Singgalang. Selain itu Anda dapat menikmati asrinya Taman Panorama dengan duduk-duduk dibangku yang disediakan. Tak lupa terdapat kios-kios yang menjual cendera mata.

Kawasan Taman Panorama tidak hanya menawarkan keindahan pesona alam, karena di sini terdapat peninggalan sejarah Lubang Jepang. Saksi bisu dari perjuangan bangsa Indonesia ini memiliki panjang 1.470 meter dan berjarak 40 meter di bawah Ngarai Sianok. Terowongan Lubang Jepang memiliki diameter tiga meter dan mempunyai dinding yang tebal sehingga suara dari luar tidak dapat terdengar.

Terowongan yang luasnya hampir dua hektar ini memiliki enam pintu yang salah satunya terletak di Taman Panorama sementara yang lain di jalan menuju Ngarai Sianok. Terdapat 21 terowongan di dalam Lubang Jepang yang memiliki fungsinya masing-masing.

 Jam Gadang

Tak lengkap rasanya jika ke Bukittinggi tanpa mengunjungi Jam Gadang. Menara jam setinggi 26 meter ini merupakan pusat penanda kota Bukittinggi sekaligus menjadi lokasi wisata yang selalu dikunjungi oleh pendatang. Berdasarkan sejarah, Jam Gadang rampung dibangun tahun 1926. Jam ini digerakkan secara mekanik oleh mesin yang hanya dibuat 2 unit di dunia, yaitu Jam Gadang dan Big Ben di London, Inggris.

Atap dari menara jam ini telah mengalami tiga kali perubahan, masa pemerintahan Hindia Belanda atap Jam Gadang berbentuk bulat dan diatasnya terdapat patung ayam jantan yang menghadap ke arah timur. Lalu pada masa pendudukan jepang, atapnya diubah menjadi bentuk pagoda. Barulah saat zaman kemerdekaan atap Jam Gadang diubah menjadi atap pada rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang.

Puas berfoto dan bersantai di kawasan Jam Gadang, tak ada salahnya mengunjungi Pasar Atas dan Pasar Bawah untuk berbelanja cendera mata atau belanja barang-barang khas dari Bukittinggi dan Sumatera Barat.

LATEST TOP NEWS