Bermain

Pesona Kota Bogor

Monday, 28 December 2015

Bogor tak hanya kaya kuliner, tapi juga memiliki banyak objek wisata. Diantaranya adalah Pura Parahyangan Agung Jagatkartta dan Kampung Budaya Sindang Barang.Dua tempat tersebut punya pesona magis. Yang satu begitu menenangkan, satu lagi kaya budaya.

Ada pura di Bogor? Pertanyaan seperti itu banyak terlontar. Meski sudah mulai dibangun sejak 1995, namun belum banyak yang tahu jika kota berhawa sejuk tersebut memiliki pura terbesar di Pulau Jawa dan terbesar kedua setelah Pura Besakih di Bali.

Lokasi pura sekitar satu hingga satu setengah perjalanan  dari pusat kota Bogor.  Konon, pura itu lahir dari wahyu yang turun ke enam orang usai  berdoa. Dari wahyu tersebut, pada 1995 dibangun candi kecil di lokasi yang diyakini menjadi titik petilasan Prabu Siliwangi, Raja Kerajaan Pajajaran. Dari situ, pembangunan berkembang hingga sebesar sekarang. Pura Parahyangan Agung Jagattkarta berdiri di tanah seluas sekitar 3 hektare.

Terletak di lereng Gunung Salak, tepatnya di Kampung Warung Loak, desa Taman Sari, Kelurahan Ciapus, Bogor. Lokasi pura lebih tinggi dari jalanan, hingga pengunjung harus mendaki beberapa anak tangga agar bisa sampai ke pelataran pura yang pertama.

Nuansa Bali

Bersih, tenang, dan indah. Itu kesan pertama ketika memasuki areal pura. Setelah menapaki jalan agak mendaki, sampailah di pelataran pertama yang disebut Nista, tempat persiapan upacara dan berganti baju.

Di tempat itu, pengunjung dipersilakan  melepas sandal dan sepatu. Hamparan pemandangan natural berpadu dengan gapura batu bernuansa Bali. Pelataran pertama kerap menjadi tempat istirahat sebelum memasuki pelataran kedua.

Usai beristirahat, bersiaplah mengagumi keindahan alam dan harmonisasi yang terasa lebih padu. Suasana seperti itu langsung tertangkap begitu  menapaki tangga menuju pelataran kedua yang disebut Madya. Bisa dipastikan pemegang kamera langsung gatal beraksi. Lokasi pura yang ada di atas bukit kecil, memungkinkan pengunjung menikmati hamparan alam hijau yang melatari bunga-bunga kamboja dan beberapa bangunan serta gapura yang menjadi bagian dari pura.

Di areal Madya, terdapat patung Ganesha dan beberapa bangunan bernuansa Bali. Masuk lebih jauh akan dijumpai hamparan rumput luas yang menjadi pengantar sebelum tangga dan pintu gerbang megah menuju areal utama. Di sebah kiri ada tempat pemujaan berlatar alam hijau dengan kabut menggantung.

Menapaki anak tangga berikut, suasana sakral kian terasa. Sunyi, tenang, dan terkesan magis. Nuansa Bali hadir dalam bunga-bunga kamboja, bangunan khas pura, dan tentu kain kotak-kotak hitam putih dan berwarna kuning. Wangi dupa memperkuat semua kesan tersebut.

Kampung Budaya Sindang Barang

Puas berkunjung ke Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, perjalanan bisa dilanjutkan ke Kampung Budaya Sindang Barang. Begitu menginjakkan kaki di tempat ini, musik tradisional yang mengiringi nyanyian selamat datang, langsung terdengar. Ibu-ibu memegang gendang dan alat musik tradisional, menyambut tamu dengan senyum di wajah.

Masuk ke pusat kegiatan desa, terbentang lapangan hijau luas, di sisi kiri berderet leuit atau lumbung padi. Disusul beberapa bangunan yang berfungsi sebagai kantor dan tempat menginap. Turun ke bawah, terdapat areal persawahan dan rumah-rumah tradisional yang difungsikan sebagai tempat istirahat/menginap.

Di salah satu sisi lapangan, biasanya sudah tersedia snack dan minuman hangat untuk pengunjung. Makanan khas desa yang sehat, di antaranya jagung, ubi, hingga kacang rebus. Minumannya teh manis hangat dan bandrek. Sedaaap, dinikmati di udara sejuk Sindangbarang, sembari mendengarkan pertunjukan musik, seni, dan budaya tradisional.

Sejarah Sindangbarang

Kampung Budaya Sindang Barang terletak di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari atau sekitar 5 km dari Kota Bogor. Kampung  budaya itu memiliki sejarah sangat panjang. Berdasarkan Babad Pajajaran, Sindangbarangsudah ada sejak abad ke-12, menjadi bagian dari Kerajaan Pajajaran dengan ibukota bernama Kutabarang.

Kerajaan Pajajaran pecah bukan karena penjajahan, tetapi bentrok antar masyarakat sekitar abad 16. Ketika itu, terjadi perpecahan, sebagian lari ke Banten, ada yang ke Cirebon, dan sebagian lagi di Sindang Barang.

Dalam perkembangan, Sindang Barang menjadi cikal bakal berkembangnya kebudayaan Sunda Bogor. Ada lima even tahunan yang sampai sekarang terus dipertahankan. Di antaranya Upacara Seren Taun yang tahun ini diperkirakan jatuh pada Bulan Desember, dan Adu Janten atau tanding pencak silat.

Selain itu, jika datang berombongan, bisa dilaksanakan beragam kegiatan, mulai dari belajar membuat terompet tradisional, layang-layang, membatik, menari jaipong, pencak silat, kerajinan janur, dll. Ada juga beragam lomba permainan tradisional seperti adu bakiak  hingga enggrang. Supaya lebih meresapi suasana pedesaan, bisa juga ikut membajak sawah, panen, hingga menumbuk padi.

LATEST TOP NEWS