Bermain

Menjelajah Kotagede

Friday, 3 June 2016

Kotagede memiliki banyak objek wisata yang bisa dijelajahi. Mulai dari kompleks bangunan tua, mural, kerajinan perak, sampai masjid tua dan makam raja-raja.

Salah satu destinasi wisata yang sangat sayang dilewatkan jika sedang berkunjung ke Yogyakarta adalah Kota Tua di Kotagede. Ya, selain identik dengan wisata kerajinan perak, Kotagede ternyata menawarkan berbagai keunikan lain di setiap sudutnya.

Sejarah dan arsitektur serta budayanya yang unik juga menjadi daya tarik tersendiri untuk ditelusuri. Sebut saja Pasar Legi Kotagede, Makam Raja-Raja Mataram, Masjid Agung Kotagede, Pemukiman & Cagar Budaya Tradisional Jawa, Reruntuhan benteng, serta Dalan Rukunan atau Jalan Rukunan.

Di Kotagede juga ada sebuah perkampungan unik  di kelurahan Purbayan, yang diberi nama Between Two Gates (“di antara dua gerbang”). Nama itu diberikan oleh peneliti-peneliti Teknik Arsitektur UGM pada tahun 1986. Perkampungan ini mempertahankan arsitektur khas Jawa kuno, dan diapit dua buah gerbang di sisi barat dan timur.

Rumah-rumah konstruksi kayu dengan gaya rumah joglo lengkap dengan ukiran-ukiran khas. Selain mempertahankan bentuk asli, tiap rumah di kawasan Between Two Gates juga memiliki warna dan desain sendiri-sendiri, sehingga tiap rumah adalah unik walau tetap berpakem pada bentuk Rumah Joglo.

Ketika gempa besar melanda Yogya di tahun 2006, banyak rumah-rumah rusak, termasuk beberapa cagar budaya di kawasan Kotagede. Nah, kawasan Between Two Gates ini adalah kawasan percontohan pemulihan pasca gempa, yang pembangunannya dibantu dana dari pihak Pemda maupun swasta, antara lain dalam bentuk Java Reconstruction Fund yang dilaksanakan Ditjen Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum RI; dan selain itu juga sebuah gerakan swadaya masyarakat yang dinamai Pusaka Jogya Bangkit!

Pemulihan lain pasca gempa adalah pemulihan berbagai pahatan/mural; selain mural di rumah-rumah, juga mural di kawasan makam raja-raja Mataram kuno.

Karya Mural Apotik Komik di Kotagede

Di tahun 2003, sebuah kolektif seni bernama Apotik Komik yang bekerjasama dengan Clarion Alley Mural Project (dari San Fransisco, USA)membuat beberapa karya mural di seputaran Yogyakarta, termasuk di sekitar Kotagede. Kolaborasi ini membentuk dan memelihara pemahaman atas seni kontemporer dan budaya antara dua komunitas tersebut melalui suatu kreasi. Proyek perintisan tahun 2003 ini bernama “Sama-sama/Together”

Apotik Komik sebuah komunitas seni rupa yang berdiri pada tahun 1997, sebelumnya telah malang melintang di dunia permuralan, mulai dari proyek pertama bertajuk “Melayang” (1997) hingga pembuatan galeri publik di tembok studio mereka di Jalan Langenarjan Lor, kawasan njeron beteng (2000-2001).

Aksi Apotik Komik yang paling diekspose adalah ketika mensponsori proyek mural kota pada tahun 2002. Kegiatan inilah yang kemudian mengakibatkan mural menjadi semakin populer di Yogyakarta dan akhirnya membentuk semacam trend baru di kalangan masyarakat.

Sayangnya Apotik Komik pun telah vakum hingga saat ini, sejak tahun 2005, walau karya-karya mereka masih banyak dapat dijumpai di seputar Yogyakarta, termasuk di seputar Kotagede. Seperti diKampung Alun-Alun, Pasar Gedhe, Sureng Juritan, Kampung Code dan Lapangan Kridosono.

Mural-mural di Kotagede memenuhi tembok-tembok luas yang dahulu putih, diisi oleh imajinasi dan aspirasi, cerita-cerita dari masa kecil. Banyak mural yang diisi cerita dari dongeng kanak-kanak. Ataupun beberapa yang bertema politik untuk menyuarakan isu-isu publik dan politis yang terasa diabaikan oleh banyak kalangan umum.

Kerajinan Perak

Kerajinan perak Kotagede telah dikenal hingga mancanegara. Berdiri sejak zaman pra kemerdekaan, namun sejarah mencatat sudah ada sejak abad ke-16, masa pemerintahan Panembahan Senopati. Mulai tumbuh menjadi industri sekitar 1930-an. Peralatan rumah tangga, hiasan rumah, hingga perhiasan terus berkembang dan dihasilkan pengrajin yang keahliannya sebagian besar diperoleh turun-temurun. Kriya yang apik terbentuk dari tradisi ukiran kayu yang juga telah melekat pada masyarakat Kotagede sejak berabad-abad turun-temurun.

Kualitas kriya perak ini tambah mengagumkan lagi, karena tidak ada penambangan perak di dekat Kotagede; kualitas kerajinan perak Kotagede adalah semata berasal dari craftsmanship para pengrajin yang dibangun dari dekade ke dekade.

Bagi yang ingin mengetahui kadar kemurnian perak, dipersilahkan mampir ke Balai Besar Perindustrian di Jalan Kusumanegara, di Kotagede. Anda dapat memulai penelusuran dengan berkunjung ke art shop KP3Y (Koperasi Produksi Pengusaha Perak Yogyakarta) di kawasan Mondorakan. Di sini kita bisa mendapatkan informasi tentang standar mutu dan harga perak.

Bangunan tua, mural, dan kerajinan perak hanyalah sebagian dari daya tarik wisata Kotagede. Masih banyak objek dan human tourism lain yang bisa dilihat. Bahkan, atraksi pembuatan kue tradisional dan gula merah pun bisa jadi tontonan yang menarik.

*Destinasi Indonesia

LATEST TOP NEWS