Bermain

Menjelajah Kota Udang

Wednesday, 20 January 2016

Cirebon atau dikenal dengan Kota Udang ternyata tak hanya kaya akan keberagaman kulinernya. Tapi juga punya banyak objek wisata.

MESKI belum tertata dengan baik, sesungguhnya Cirebon merupakan daerah yang kaya objek wisata sejarah, ziarah, seni, budaya, dan kuliner. Berikut beberapa objek wisata yang perlu dipertimbangkan.

Kasepuhan & Kanoman

Keraton merupakan salah satu objek wisata utama Kota Cirebon. Keraton Kasepuhan berdiri dengan material bangunan yang masih asli. Arsitetur dan interiornya perpaduan antara Jawa, China, Timur Tengah, dan Eropa. Demikian pula koleksi benda-benda kunonya.

Masuk ke Kasepuhan, pengunjung akan disuguhi laburan dinding putih dengan hiasan keramik China warna-warni. Sangat menarik. Terdapat pula museum yang menyimpan replika kereta kencana Singa Barong. Kereta itu istimewa, gabungan dari tiga bentuk hewan, gajah, garuda, dan naga. Belalai gajah adalah lambang agama Hindu, garuda lambang Islam, dan naga melambangkan agama Budha. Sayap garuda bisa bergerak saat berjalan, sehingga memberi kesejukan bagi raja yang ditandu.

Keraton Kasepuhan mulai dibangun pada 1430 oleh putra mahkota Kerajaan Pajajaran.
Keraton Kanoman didirikan pada 1588, sama indahnya dengan Kasepuhan. Sayangnya objek-objek wisata di Ciebon belum tertata dengan baik. Di depan bangunan Keraton Kanoman misalnya, berdiri lapak-lapak. Tidak jauh dari situ terdapat Pasar Kanoman. Kondisi yang sama juga terlihat di Kasepuhan dan Makam Sunan Gunung Jati.

Gua Sunyaragi

Gua Sunyaragi dibangun pada abad 17, terletak di Kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon. Arsitekturnya sangat unik, tiada dua. Dibangun dengan mempertahankan batu-batu karang yang bergelombang. Pada masanya, Gua Sunyaragi dikeliling danau, sehingga kerap disebut sebagai Taman Ar Sunyaragi.

Ketika perang melawan Belanda, gua-gua di kawasan itu menjadi tempat persembunyian yang ditakuti. Kini lebih sering menjadi tempat tujuan wisata, pengambilan foto-foto, dan juga pertunjukan seni budaya di areal lapangan terbuka. Objek wisata yang satu ini patut didatangi. Sangat indah dan unik, dengan harga tiket masuk Rp 8.000.

Sentra Kerajinan Tembikar

Cirebon memiliki sentra kerajinan gerabah di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon. Lokasinya sekitar 15 km dari Kota Cirebon. Meski disebut sentra gerabah, sayangnya belum ada showroom yang menampung kerajinan rakyat.

Namun, di desa itu, masyarakat bisa melihat langsung pengerjaan gerabah dengan teknik tradisional. Jika beruntung, bisa melihat proses pembakaran, pemilihan, hingga proses mempercantik gerabah.
Ibu Atma, salah satu pengrajin gerabah menuturkan bahwa masyarakat Sitiwinangun memeroleh keahlian secara turun-temurun. Satu pot dijual dengan harga hanya Rp 3.000. Dalam satu hari Ibu Atma bisa membuat sekitar 10 pot. Bahan dasarnya dibeli seharga Rp 20.000. Untuk gerabah dengan sentuhan lebih halus dengan desain lebih modern, bisa laku dijual dengan harga lebih tinggi. Datang ke Sitiwinangun bisa membuat wisatawan memahami kerumitan proses membuat gerabah, mengagumi, sekaligus menggugah keprihatinan, karena potensi yang ada belum terkelola dengan baik.

Batik Katura

Batik Cirebon sudah menjadi salah satu industri penggerak ekonomi daerah. Kawasan trusmi menjadi sentra perburuan batik wisatawan dan para pecinta kain tradisional. Salah satu tempat penjualan dan belajar batik yang direkomendasikan adalah Batik Katura.

Sanggar Batik Katura berlokasi di Jl Buyut Trusmi No 439 Trusmi Kulon-Plered, Cirebon. Pengunjung bisa langsung melihat koleksi kain atau menikmati berbagai proses pembatikan. Jangan segan bertanya, karena pasti akan mendapat penjelasan.

Hampir setiap hari Sanggar Batik Katura ramai pengunjung. Ada yang datang untuk menambah koleksi, ada yang sekadar melihat-lihat, banyak pula datang berombongan untuk belajar membatik. Biayanya terjangkau. Untuk turis asing Rp 100 ribu, wisatawan Nusantara Rp 50 ribu, dan pelajar Rp 40.000.

Sebelum berpraktik, mereka akan mendapat penjelasan singkat, kemudian diberi selembar kain putih berukuran 40×40 cm yang sudah memiliki pola. Jika ingin membuat pola sendiri, tersedia kain putih polos. Bisa juga anak-anak memesan pola modern misalnya tokoh kartun. Di atas kain itulah pengunjung bisa belajar membatik.

Kerajinan Kerang

Jika sudah sampai di Cirebon, sempatkan mampir ke Rumah Kerang. Begitu masuk ke showroom, gemerlap lampu terlihat memesona, menyinari dan memantul dari beragam cangkang kerang yang sudah dibentuk menarik. Di tangan Nur Handiah Jaime Taquba, limbah cangkang kerang berubah menjadi kerajinan bernilai tinggi. Karya Nur diminati hingga mancanegara. Saat ini kerajinan kerang Cirebon telah diekspor ke 35 negara.

Ruang pamer kerajinan kerang CV Multi Dimensi milik Nur berlokasi di Astapada, seberang Tol Cirebon Barat atau Jalan Ki Ageng Tapa, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon. Begitu masuk ruang pamer, keindahan desain kerajinan dan gemerlap pantulan lampu pasti akan memesona.

Pada tahun 2000 Nur mendirikan CV di tanah seluas 1000 m2 dan memperkerjakan 60 orang tetangga. Waktu itu hanya mengerjakan pengumpulan limbah cangkang kerang untuk diekspor ke luar negeri. Lembah kulit kerang itu dia kumpulkan dari berbagai pantai di Indonesia, mulai dari Ujung Kulon, Lampung, Bengkulu, Tegal, Surabaya, dll. Tujuan ekspor ke Filipina dan Hong Kong.

Lama-kelamaan Nur dan suami penasaran, untuk apa sebenarnya limbah tersebut. Saat datang ke dua negara itu, mereka baru tahu jika cangkang kerang yang dikirim disulap menjadi kerajinan cantik dengan harga jual sangat tinggi. Sekembali ke Tanah Air, Nur bertekad melakukan hal yang sama. Dia pun mulai mengasah kemampuan, merintis usaha kerajinan kerang hingga akhirnya bisa besar seperti sekarang. (Destinasi Indonesia)

LATEST TOP NEWS