Bermain

Menelusuri Sejarah di Taman Sari

Tuesday, 29 December 2015

Mengunjungi Taman Sari ternyata bisa sangat menyenangkan. Ada sejarah serta kisah kesultanan disana.Apa yang bisa dilakukan jika berkunjung ke Yogyakarta? Berjalan-jalan di sepanjang Malioboro, mengunjungi komplek Keraton serta menikmati legit dan gurihnya gudeg, mungkin bisa jadi pilihan. Di samping itu, ada juga destinasi lain seperti Taman Sari yang lokasinya dekat dengan Keraton.

Konon, di Taman Sari itulah raja-raja Yogya memilih selir dan bisa memandangi daerah kekuasaannya dengan leluasa. Pintu masuk Taman Sari itu sendiri melewati perumahan abdi dalem Keraton Yogyakarta. Ketika membeli tiket masuk, wisatawan biasanya akan disambut pemandu wisata. Tapi jangan khawatir, semua pengunjung diberi kebebasan memilih, apakah akan menggunakan jasa mereka atau tidak. Bila ingin menggunakan, tarifnya pun tidak ditentukan alias seikhlas dan sewajarnya.

Dikisahkan oleh salah seorang pemandu, komplek Taman sari dibangun pada 1958 oleh arsitek berkebangsaan Portugis. Pada 2004, beberapa bangunan diantaranya di renovasi dengan bantuan dana dari Portugis. Luas Taman Sari mencapai 15 hektare, namun kini menyusut menjadi 12, 6 hektare. Sebagian dipinjamkan sebagai tempat bermukim masyarakat yang kemudian menjadi abdi dalem setelah terjadi gempa pada 1812.

Tempat Permandian

Perjalanan menuju bagian dalam Taman Sari melewati gapura yang mengandung simbol pembangunan Taman Sari, yakni 1765 penanggalan Jawa dan 1758 hitungan masehi. Lewat gapura ada tempat bangunan terbuka plus pelataran yang digunakan untuk pentas tarian yang digelar selepas Sultan mandi bersama selir pilihan.

Terbayang merdunya suara gamelan, karena entah bagaimana, bangunan terbuka tempat bermain gamelan bisa memantulkan suara. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju tempat permandian para selir raja. Terpampang tiga kolam berhias payung yang melambangkan pengayoman raja pada para penghuni keraton. Ada tiga kolam yang terlihat. Pertama untuk putra-putri raja, kolam kedua untuk para selir, dan ketiga untuk raja dan selir yang saat itu terpilih. Di setiap sudut pemandian ada bangunan berbentuk kotak cukup besar yang dikhususkan untuk membakar wewangian. Dalam istilah sekarang disebut aromaterapi.

Pemilihan selir menurut penjelasan pemandu wisata, dilakukan dengan cara melempar bunga dari atas menara yang memisahkan dua kolam pertama dan kolam pribadi sultan. Selir yang memperoleh bunga berarti mendapat giliran menemani raja. Cara itu konon dilakukan untuk keadilan dan menghindari kecemburuan para selir yang biasanya diambil dari abdi dalam, untuk mengangkat derajat mereka menjadi bangsawan.

Pulau Kenanga

Usai ritual bersama selir itulah, raja menyaksikan taritarian, sebelum akhirnya pergi ke Pulau Kenanga untuk melihat daerah kekuasaannya dari puncak tertinggi. Mengapa disebut pulau? Karena memang zaman dulu Pulau Kenanga dikeliling Air yang dialirkan dari Kali Code. Aliran air yang tingginya hanya setengah meter itu sengaja dibuat sebagai salah satu wujud pertahanan dari serangan musuh. Itu sebabnya, Pulau Kenanga kerap disebut juga Istana Air.

Ketebalan dinding bangunan di Pulau Kenanga sungguh luar biasa, mencapai satu meter. Bangunan di pulau itu, pada zaman dulu digunakan untuk menginap para tamu. Sisi lain menjadi tempat para abdi dalam membuat batik untuk keraton. Pada zaman itu, Sri Sultan kerap berperahu menuju Pulau Kenanga, menyaksikan Yogyakarta dari ketinggian. Reruntuhan bangunan di Pulau Kenangan dijamin memesona.

Gema Indah Bangunan Tua

Sebelum ke Pulau Kenanga, ada satu tempat yang juga akan membuat pengunjung terpesona. Dari Taman Sari melewati lorong perkampungan, tibalah di masjid bawah tanah yang tidak lagi digunakan. Saat menuruni tangga, terasa aliran angin sejuk. Arsitektur bangunan itu memang sangat memperhitungkan ventilasi. Selain itu, dibuat sedemikian rupa hingga saat orang berbicara atau bertepuk tangan langsung bergema.

Bangunan masjid kuno itu berbentuk bundar dan terdiri dari dua lantai. Jemaah perempuan melingkar dengan iman sendiri yang posisinya menjorok ke dalam bangunan. Demikian juga tempat untuk laki-laki. Di tengah lingkaran terdapat kolam untuk mengambil air wudhu. bentuknya bulat, lebih rendah dari lantai pertama, dikeliling lima tangga yang melambangkan lima rukun Islam.

Di salah satu sudut bangunan terdapat satu tempat yang tertutup bata telanjang. Kabarnya, lorong tersebut bisa langsung tembus ke pemandian Taman Sari dan Keraton. Namun, ada juga yang mengatakan, lorong itu bisa langsung membawa ke pantai selatan, saat Sri Sultan bertemu dengan Nyi Roro Kidul. Kebenarannya? Entahlah! Tapi yang jelas perjalanan keliling kompleks Taman Sari akan memberikan kenangan tersendiri.

LATEST TOP NEWS